Selasa, 28 Maret 2017

Menyampaikan Laporan Perjalanan


Sebelum kita belajar bagaimana menyampaikan laporan perjalanan, mari kita dengarkan lagu “Kereta Malam” Karya Rhoma Irama yang didendangkan oleh Elvy Sukaesih berikut ini!

Betapa menyenangkannya melakukan perjalanan ke luar kota atau ke mana pun tempatnya. Banyak hal baru yang dapat dinikmati di sana. Tempat-tempat yang indah, hasil-hasil budaya setempat, cenderamata, dan masih banyak hal lain yang ingin kita ceritakan kepada teman kita. Nah, kali ini kita akan belajar menyampaikan laporan perjalanan yang pernah kita ikuti kepada teman-teman kita. Kita akan berbagi cerita dengan orang lain.

1. Mengembangkan Cerita
Kesulitan pertama bagi orang yang baru saja belajar menyampaikan laporan perjalanan adalah dari mana memulainya. Sebenarnya, laporan perjalanan dapat dimulai dari mana saja. Ada yang dimulai dari urutan waktu, urutan tempat atau ruang, dan ada yang dimulai dari urutan kejadian (topik).
2. Mempersiapkan Laporan Perjalanan
Perjalanan ke manakah yang akan kita ceritakan kepada teman-teman kita? Pilih salah satu yang paling menyenangkan dan menimbulkan kesan mendalam. Kita boleh menggunakan urutan waktu, tempat, kejadian, atau gabungan dari ketiganya. Tulis dahulu pokok-pokok yang akan kita ceritakan sesuai dengan urutan pola yang kita pilih. Perhatikan contoh berikut
1. Urutan waktu
Perjalanan ke
a. Menjelang pemberangkatan.
b. Ketika di perjalanan.
c. Waktu tiba di lokasi.
d. Selama berada di lokasi.
e. Dalam perjalanan pulang ke rumah.
2. Urutan tempat
Perjalanan ke:
a. Berangkat dari rumah/sekolah.
b. Di perjalanan dalam bus/kereta/pesawat.
c. Di tempat tujuan.
d. Tiba di rumah/sekolah kembali.
3. Urutan kegiatan
Perjalanan ke:
a. Menyiapkan bekal.
b. Berkumpul di satu tempat.
c. Menikmati perjalanan.
d. Mengunjungi beberapa lokasi wisata.
e. Berbelanja souvenir.
f. Kembali pulang ke rumah.

Minggu, 26 Maret 2017

Membedakan Antara Fakta dan Opini dalam Teks Iklan

Iklan yang dimuat pada media cetak merupakan salah satu jenis teks yang tergolong dalam teks persuasif. Teks iklan biasanya memuat pujian terhadap produk barang atau jasa yang ditawarkan. Namun demikian, informasi yang termuat dalam teks iklan tersebut belum semuanya informasi faktual. Artinya, sebagian dari informasi tersebut masih memerlukan pembuktian. Di sinilah diperlukan kejelian pembaca untuk mampu membedakan antara fakta dan opini dari informasi yang dimuat dalam teks iklan di surat kabar. Kemampuan ini akan membuat kita tidak mudah termakan bujukan atau rayuan iklan yang masih perlu pembuktian nyata.

Cermatilah teks iklan berikut!


Dalam teks iklan tersebut terdapat informasi yang bersifat persuasif. Namun demikian, tidak semua pernyataan dalam iklan tersebut  berupa fakta. Ada juga yang berupa opini. Nah,  perhatikan dengan cermat kedua paragraf iklan tersebut!

Paragraf ke-1
Dinamika dunia bisnis  sangat membutuhkan talenta berkualitas untuk membuat karya bisnis yang bernilai tinggi. Diperlukan pengetahuan, keterampilan dan sikap berbisnis yang baik agar berhasil mengisi dan menciptakan peluang.
Dalam paragraf tersebut, terdapat kata sangat yang merupakan salah satu ciri pernyataan yang merupakan opini. Begitu juga penggunaan kata agar pada kalimat kedua menguatkan bahwa ada sesuatu yang diharapkan, artinya sesuatu belum terjadi sehingga tidak bisa dikatakan sebagai fakta.

Begitu juga dengan paragraf ke-2
Dengan bergabung bersama Akademi Sekretaris Bintang Timur, Anda akan mendapatkan proses pembelajaran bisnis yang terpadu dan mudah  digunakan  untuk membuat Anda menjadi pembangunan bisnis handal di masa depan.
Dalam paragraf tersebut menggunakan kata akan yang merupakan salah satu ciri pernyataan yang merupakan opini karena masih perlu pembuktian. Apakah betul dengan bergabung dengan akademi tersebut bisa mendapatkan proses pembelajaran bisnis yang terpadu dan seterusnya.
Sementara itu informasi tentang nama dan alamat seperti Lembaga Pendidikan Kampung Rambutan Jl. Bungur Raya Nomor 66 Jakarta merupakan informasi faktual karena pembuat iklan tentu menyampaikan bahwa informasi itu sesuai dengan fakta yang sesungguhnya. Oleh karena itu, informasi seperti itu disebut fakta.

Menyunting Karangan

Kita tentu mengenal istilah editor. Editor adalah seseorang yang bertugas mengedit. Kegiatan mengedit artinya meneliti kemudian melakukan seleksi jika ada bagian yang perlu dihilangkan atau ditambah. Istilah mengedit dipadankan dengan kata menyunting dalam bahasa Indonesia.
Kata editor dipadankan dengan kata penyunting atau penyelia. Seorang penyunting membutuhkan keahlian, ketelitian, dan pengetahuan yang cukup tentang bahasa Indonesia. Berikut ini hal-hal yang harus disunting pada sebuah teks dalam bahasa Indonesia.
1.  Ejaan
Penyuntingan tentang ejaan berpedoman pada Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Kesalahan yang sering dilakukan oleh para pemakai bahasa adalah kesalahan penulisan huruf kapital dan pemakaian tanda baca.
  Contoh:

2. Keefektifan Kalimat
  Kalimat disebut efektif apabila memiliki struktur yang tepat sehingga makna kalimatnya   mudah dipahami dan tidak menimbulkan penafsiran yang tidak sesuai dengan maksud     penutur kalimat.
  Contoh:

3. Pemilihan Kata
Sinonim dalam bahasa Indonesia tidak berlaku mutlak, artinya meski sebuah kata memiliki arti yang hampir sama bukan berarti bisa saling bertukar tempat. Oleh karena itu, pemakaian kata harus membertimbangkan ketepatan pemilihan kata atau diksi.
Contoh:

Meresensi Buku


Resensi merupakan ulasan atau pembicaraan tentang sebuah buku dengan mempertimbangkan segala sesuatu yang terdapat dalam isi buku. Dengan demikian, meresensi buku berarti kegiatan mengulas sebuah buku yang baru diterbitkan. Kegiatan tersebut bertujuan menunjukkan kepada pembaca mengenai buku yang diterbitkan apakah layak mendapatkan sambutan atau sebaliknya oleh masyarakat pembaca. Dengan demikian, resensi buku sangat membantu pembaca untuk memiliki atau tidak buku yang  diterbitkan itu.

Resensi buku dapat kita temukan di surat kabar elektronik atau majalah. Resensi berisi penilaian tentang kelebihan dan kelemahan sebuah buku. Menarik atau tidaknya tampilan buku, kritikan atau dorongan kepada pembaca tentang perlu tidaknya buku itu dibaca, dimiliki atau dibeli.

Tujuan Menulis Resensi
1. Membantu pembaca yang belum berkesempatan membaca buku yang dimaksud (karena buku yang diresensi biasanya buku baru) atau membantu mereka yang memang tidak punya waktu membaca buku sedikitpun. Dengan adanya resensi, pembaca bisa mengetahui gambaran dan penilaian umum terhadap buku tertentu.
2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang diresensi. Dengan begitu, pembaca bisa belajar bagaimana semestinya membuat buku yang baik itu. Peresensi bisa saja sangat subjektif dalam menilai buku. Lewat buku yang diresensi itulah peresensi belajar melakukan kritik dan koreksi terhadap sebuah buku.
3.  Mengetahui latar belakang dan alasan buku tersebut diterbitkan.
4. Mengetahui perbandingan buku yang telah dihasilkan penulis yang sama atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Peresensi yang punya “jam terbang” tinggi, biasanya tidak melulu mengulas isi buku apa adanya. Biasanya, mereka juga menghadirkan karyakarya sebelumnya yang telah ditulis oleh pengarang buku tersebut atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Hal ini tentu akan lebih memperkaya wawasan pembaca nantinya.
5. Bagi penulis buku yang diresensi, informasi atas buku yang diulas bisa sebagai masukan berharga bagi proses kreatif kepenulisan selanjutnya. Karena tak jarang peresensi memberikan kritik yang tajam baik itu dari segi cara dan gaya kepenulisan maupun isi dan substansi bukunya. Adapun, bagi penerbit bisa dijadikan wahana koreksi karena biasanya peresensi juga menyoroti soal font (jenis huruf) mutu cetakan dan lain-lain.

Struktur Tulisan ResensiUmumnya sebuah resensi berisi tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup.
1.   Bagian Pendahuluan
Bagian ini berisi karakteristik fisik sebuah buku yang diresensi. Juga diinformasikan secara objektif tentang identitas buku. Informasi yang harus disampaikan meliputi judul, penulis, penyunting (jika ada), penerbit, tahun terbit, cetakan ke-...., tebal buku. Informasi pada pendahuluan ini bersifat faktual, menginformasikan apa adanya tentang identitas sebuah buku.
2.  Bagian Isi
Bagian isi sebuah resensi berisi ulasan tentang judul buku, paparan singkat isi buku, gambaran secra keseluruhan isi buku, informasi tentang latar belakang serta tujuan penulisan buku. Pada bagian ini juga perlu diulas tentang gaya penulisan buku, membandingkan antara buku yang diresensi dengan buku lain yang memiliki tema sama. Dapat juga membandingkan dengan buku lain yang ditulis oleh penulis yang sama dengan buku yang diresensi.
3. Bagian Penutup
Bagian penutup berisi penilaian terhadap kualitas isi buku secara keseluruhan, menilai kelebihan atau kekurangan isi buku baik dari isinya, tampilannya, serta kebakuan bahasa yang digunakan. Kritik atau  saran kepada penulis atau penerbit dapat disampaikan dalam bagian ini. Penulis resensi juga dapat memberikan pertimbangan kepada pembaca tentang perlu tidaknya pembaca membaca atau memiliki buku tersebut. Dengan berbagai ulasan dan pertimbangan yang diberikan, resensi dapat berguna bagi pembaca sekaligus bagi penulis danpenerbit. Bagi pembaca resensi sangat bermanfaat untuk mempertimbangkan matang-matang perlu tidaknya memiliki buku yang terbit. Bagi penerbit dan penulis resensi sangat bermanfaat untuk memperbaiki dan menyempurnakan buku yang ditulis dan diterbitkan itu.

Senin, 20 Maret 2017

Rabu, 15 Maret 2017

Gagap pun Menjadi Sebuah Gaya Hidup

Belum sempat sebagian masyarakat kita tersadar dari ketidakmampuan menghadapi kecanggihan teknologi yang seakan tidak menghiraukan ketertatihan kita, sebagian masyarakat yang merasa telah mampu mengendalikan dan menguasai kehebatan gempuran itu pun tergagap-gagap pula.
Sebagian kita selalu mengolok-olok orang yang kurang atau tidak mampu memanfaatkan kemajuan teknologi karena ketidakmampuan menguasainya dicapnya gagap teknologi. Sebuah misal, jika ada seseorang yang tengah menggunakan sarana teknologi lalu menemui kendala karena ketidakpahaman pemanfaatannya dianggapnya gagap teknologi. Cukup terhibur orang-orang yang mendengarkan anggapan atau julukan sinis itu. Mereka yang secara peribadi tidak mampu menfaatkan teknologi sudah merasa bergembira mendengarkan pelabelan seseorang terhadap orang lain yang tergagap dalam teknologi, apalagi yang merasa sudah cukup mumpuni dalam pemanfaatan teknologi itu.
Orang yang dicap gagap sebenarnya sudah cukup bersabar dan merasa maklum, jika tidak mau dikatakan malu menghadapi kenyataan itu. sementara itu, mereka yang merasa mampu menggunakan teknologi sangat merasa tersanjung jika dikatannya sebagai orang yang hebat karena kemampuannya menggunakan teknologi canggih saat ini.


Bahaya Berkendara Sambil Menelepon
Satu sisi, tidak sadarkah kita? Kehebatan kita menguasai teknologi ternyata termasuk juga orang gagap teknologi. Betapa tidak? Coba tengok keseharian orang-orang atau teman-teman yang ada di tengah-tengah kita yang suka berkomunikasi dengan menggunakan handphone sambil berkendara dan tidak menggunakan alat bantu seperti handset. Tanpa mereka sadari bahwa ia dan orang-orang di sekitarnya diintai oleh bahaya yang siap menerkam keteledorannya karena penggunaan teknologi itu. Contoh lain, seorang yang sedang memimpin atau mengikuti rapat harus terputus berkomunikasi dengan forum yang sedang dihadapinya karena harus menerima telapon, tambah lagi dengan suara pembicaraan yang lantang ataupun dengan suara rendah sambil menangkupkan telapak tangan di depan mulutnya. Mereka tidak menyadari kalau dirinya terkendalikan oleh teknologi. Apakah contoh polah seperti ini tidak bisa dikatakan gagap teknologi?
Dikatakan gagap karena tidak mampu mengendalikan atau memanfaatkan sebuah produk teknologi. Orang yang tidak mampu menguasai teknologi dikatakan gagap teknologi. Lalu, apa bedanya dengan para ‘penguasa’ (orang yang menguasai) teknologi, tetapi mereka tidak mampu menguasai atau tidak mampu mengendalikan pemanfaatan teknologi itu? Nyaris tidak ada perbedaan sedikit pun.
Pemanfaatan teknologi sewajarnya, tidak dengan berlebihan dan menyadari kondisi yang dihadapi merupakan upaya menempatkan sarana teknologi di bawah kendali kita. Dengan terlalu banyak masyarakat kita yang tergagap-gagap dalam teknologi, bangsa kita makin tercerabut dari budaya baik kita yang mengutamakan bersilaturahim. Mereka lebih asyik dan lebih senang berkomunikasi dengan telepon apalagi ber-SMS-SMS-an sehingga orang-orang yang ada di sekilingnya tak terhiraukan dan tidak saling mengenal meskipun sering berjalan bersama, makan bersama, bahkan tidur bersama. Semua itu sepertinya sudah hal yang biasa dan wajar karena tidak tahu lagi etika berperibadi dan bermasyarakat.
Jika kita menginginkan menjadi bangsa yang beretika dan bermartabat, jadikanlah diri kita sebagi bangsa yang memiliki karakter dan keinginan yang kuat untuk menjadi peribadi dan bangsa yang memiliki keindonesiaan. Gaya hidup bukanlah harga mati karena bisa disubsitusikan ke hal lain yang bermartabat. Bukan lagi menjadi fenomena peribadi yang tergagap-gagap.