Minggu, 14 Desember 2025

Menjadi guru yang diidamkan oleh semua murid bukan berarti harus sempurna, tetapi hadir, peduli, dan bermakna bagi mereka. Berikut prinsip dan langkah nyata yang terbukti membuat guru dicintai sekaligus dihormati:
1. Menguasai materi, tapi lebih penting menguasai cara mengajar
    Murid menyukai guru yang menjelaskan jelas dan sederhana; memberi contoh yang dekat dengan 
    kehidupan mereka; dan tidak meremehkan pertanyaan murid-muridnya.
    Guru hebat bukan yang paling pintar, tapi yang membuat murid merasa pintar.

2. Mengajar dengan hati, bukan hanya kewajiban.
    Murid senang dengan guru yang hafal nama murid; tahu karakter mereka; menyapa dengan senyum;
    dan mau mendengarkan tanpa menghakimi.
    Murid akan lupa rumus, tapi tidak akan lupa perasaan saat bersama gurunya.

3. Tegas tapi Adil (Bukan Galak)
    Guru idaman itu konsisten pada aturan; tidak pilih kasih; menghukum dengan mendidik, bukan
    mempermalukan; dan memberi kesempatan memperbaiki kesalahan.
    Murid akan menghormati guru yang adil.

4. Jadikan kelas hidup dan aman
    Ciptakan suasana sehingga murid berani bertanya; tidak takut salah; boleh berpendapat; dan belajar
    sambil tertawa.
    Kelas yang aman, murid akan berani berkembang.

5. Jadi teladan, bukan sekadar pemberi nasihat
    Buktikan dengan tindakan:
    a. Disiplin → datang tepat waktu
    b. Jujur → akui jika salah
    c. Sopan → berbicara santun
    d. Semangat belajar → terus belajar
    Murid lebih percaya apa yang guru lakukan daripada apa yang guru ucapkan.

6. Menghargai usaha, bukan hanya hasil atau nilai. Oleh karena itu, guru harus berani mengpresiasi
    proses; mau memuji usaha sekecil apa pun; dan guru harus membandingkan murid dengan dirinya
    sendiri, bukan dengan teman lain.
    Ini membuat murid termotivasi, bukan tertekan.

7. Gunakan variasi mtode seperti: diskusi; game edukatif; cerita inspiratif; media digital; dan proyek
    kelompok.
    Murid akan lekas bosan pada metode yang itu-itu saja. 

8. Doakan murid dengan tulus. Ini sering terlupakan, tapi sangat kuat. Guru yang mendoakan muridnya
    insyaallah akan lebih sabar; lebih tulus; dan lebih ikhlas.
    Ketulusan itu terasa oleh murid.




Selasa, 28 Maret 2017

Menyampaikan Laporan Perjalanan


Sebelum kita belajar bagaimana menyampaikan laporan perjalanan, mari kita dengarkan lagu “Kereta Malam” Karya Rhoma Irama yang didendangkan oleh Elvy Sukaesih berikut ini!

Betapa menyenangkannya melakukan perjalanan ke luar kota atau ke mana pun tempatnya. Banyak hal baru yang dapat dinikmati di sana. Tempat-tempat yang indah, hasil-hasil budaya setempat, cenderamata, dan masih banyak hal lain yang ingin kita ceritakan kepada teman kita. Nah, kali ini kita akan belajar menyampaikan laporan perjalanan yang pernah kita ikuti kepada teman-teman kita. Kita akan berbagi cerita dengan orang lain.

1. Mengembangkan Cerita
Kesulitan pertama bagi orang yang baru saja belajar menyampaikan laporan perjalanan adalah dari mana memulainya. Sebenarnya, laporan perjalanan dapat dimulai dari mana saja. Ada yang dimulai dari urutan waktu, urutan tempat atau ruang, dan ada yang dimulai dari urutan kejadian (topik).
2. Mempersiapkan Laporan Perjalanan
Perjalanan ke manakah yang akan kita ceritakan kepada teman-teman kita? Pilih salah satu yang paling menyenangkan dan menimbulkan kesan mendalam. Kita boleh menggunakan urutan waktu, tempat, kejadian, atau gabungan dari ketiganya. Tulis dahulu pokok-pokok yang akan kita ceritakan sesuai dengan urutan pola yang kita pilih. Perhatikan contoh berikut
1. Urutan waktu
Perjalanan ke
a. Menjelang pemberangkatan.
b. Ketika di perjalanan.
c. Waktu tiba di lokasi.
d. Selama berada di lokasi.
e. Dalam perjalanan pulang ke rumah.
2. Urutan tempat
Perjalanan ke:
a. Berangkat dari rumah/sekolah.
b. Di perjalanan dalam bus/kereta/pesawat.
c. Di tempat tujuan.
d. Tiba di rumah/sekolah kembali.
3. Urutan kegiatan
Perjalanan ke:
a. Menyiapkan bekal.
b. Berkumpul di satu tempat.
c. Menikmati perjalanan.
d. Mengunjungi beberapa lokasi wisata.
e. Berbelanja souvenir.
f. Kembali pulang ke rumah.

Minggu, 26 Maret 2017

Membedakan Antara Fakta dan Opini dalam Teks Iklan

Iklan yang dimuat pada media cetak merupakan salah satu jenis teks yang tergolong dalam teks persuasif. Teks iklan biasanya memuat pujian terhadap produk barang atau jasa yang ditawarkan. Namun demikian, informasi yang termuat dalam teks iklan tersebut belum semuanya informasi faktual. Artinya, sebagian dari informasi tersebut masih memerlukan pembuktian. Di sinilah diperlukan kejelian pembaca untuk mampu membedakan antara fakta dan opini dari informasi yang dimuat dalam teks iklan di surat kabar. Kemampuan ini akan membuat kita tidak mudah termakan bujukan atau rayuan iklan yang masih perlu pembuktian nyata.

Cermatilah teks iklan berikut!


Dalam teks iklan tersebut terdapat informasi yang bersifat persuasif. Namun demikian, tidak semua pernyataan dalam iklan tersebut  berupa fakta. Ada juga yang berupa opini. Nah,  perhatikan dengan cermat kedua paragraf iklan tersebut!

Paragraf ke-1
Dinamika dunia bisnis  sangat membutuhkan talenta berkualitas untuk membuat karya bisnis yang bernilai tinggi. Diperlukan pengetahuan, keterampilan dan sikap berbisnis yang baik agar berhasil mengisi dan menciptakan peluang.
Dalam paragraf tersebut, terdapat kata sangat yang merupakan salah satu ciri pernyataan yang merupakan opini. Begitu juga penggunaan kata agar pada kalimat kedua menguatkan bahwa ada sesuatu yang diharapkan, artinya sesuatu belum terjadi sehingga tidak bisa dikatakan sebagai fakta.

Begitu juga dengan paragraf ke-2
Dengan bergabung bersama Akademi Sekretaris Bintang Timur, Anda akan mendapatkan proses pembelajaran bisnis yang terpadu dan mudah  digunakan  untuk membuat Anda menjadi pembangunan bisnis handal di masa depan.
Dalam paragraf tersebut menggunakan kata akan yang merupakan salah satu ciri pernyataan yang merupakan opini karena masih perlu pembuktian. Apakah betul dengan bergabung dengan akademi tersebut bisa mendapatkan proses pembelajaran bisnis yang terpadu dan seterusnya.
Sementara itu informasi tentang nama dan alamat seperti Lembaga Pendidikan Kampung Rambutan Jl. Bungur Raya Nomor 66 Jakarta merupakan informasi faktual karena pembuat iklan tentu menyampaikan bahwa informasi itu sesuai dengan fakta yang sesungguhnya. Oleh karena itu, informasi seperti itu disebut fakta.

Menyunting Karangan

Kita tentu mengenal istilah editor. Editor adalah seseorang yang bertugas mengedit. Kegiatan mengedit artinya meneliti kemudian melakukan seleksi jika ada bagian yang perlu dihilangkan atau ditambah. Istilah mengedit dipadankan dengan kata menyunting dalam bahasa Indonesia.
Kata editor dipadankan dengan kata penyunting atau penyelia. Seorang penyunting membutuhkan keahlian, ketelitian, dan pengetahuan yang cukup tentang bahasa Indonesia. Berikut ini hal-hal yang harus disunting pada sebuah teks dalam bahasa Indonesia.
1.  Ejaan
Penyuntingan tentang ejaan berpedoman pada Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Kesalahan yang sering dilakukan oleh para pemakai bahasa adalah kesalahan penulisan huruf kapital dan pemakaian tanda baca.
  Contoh:

2. Keefektifan Kalimat
  Kalimat disebut efektif apabila memiliki struktur yang tepat sehingga makna kalimatnya   mudah dipahami dan tidak menimbulkan penafsiran yang tidak sesuai dengan maksud     penutur kalimat.
  Contoh:

3. Pemilihan Kata
Sinonim dalam bahasa Indonesia tidak berlaku mutlak, artinya meski sebuah kata memiliki arti yang hampir sama bukan berarti bisa saling bertukar tempat. Oleh karena itu, pemakaian kata harus membertimbangkan ketepatan pemilihan kata atau diksi.
Contoh:

Meresensi Buku


Resensi merupakan ulasan atau pembicaraan tentang sebuah buku dengan mempertimbangkan segala sesuatu yang terdapat dalam isi buku. Dengan demikian, meresensi buku berarti kegiatan mengulas sebuah buku yang baru diterbitkan. Kegiatan tersebut bertujuan menunjukkan kepada pembaca mengenai buku yang diterbitkan apakah layak mendapatkan sambutan atau sebaliknya oleh masyarakat pembaca. Dengan demikian, resensi buku sangat membantu pembaca untuk memiliki atau tidak buku yang  diterbitkan itu.

Resensi buku dapat kita temukan di surat kabar elektronik atau majalah. Resensi berisi penilaian tentang kelebihan dan kelemahan sebuah buku. Menarik atau tidaknya tampilan buku, kritikan atau dorongan kepada pembaca tentang perlu tidaknya buku itu dibaca, dimiliki atau dibeli.

Tujuan Menulis Resensi
1. Membantu pembaca yang belum berkesempatan membaca buku yang dimaksud (karena buku yang diresensi biasanya buku baru) atau membantu mereka yang memang tidak punya waktu membaca buku sedikitpun. Dengan adanya resensi, pembaca bisa mengetahui gambaran dan penilaian umum terhadap buku tertentu.
2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang diresensi. Dengan begitu, pembaca bisa belajar bagaimana semestinya membuat buku yang baik itu. Peresensi bisa saja sangat subjektif dalam menilai buku. Lewat buku yang diresensi itulah peresensi belajar melakukan kritik dan koreksi terhadap sebuah buku.
3.  Mengetahui latar belakang dan alasan buku tersebut diterbitkan.
4. Mengetahui perbandingan buku yang telah dihasilkan penulis yang sama atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Peresensi yang punya “jam terbang” tinggi, biasanya tidak melulu mengulas isi buku apa adanya. Biasanya, mereka juga menghadirkan karyakarya sebelumnya yang telah ditulis oleh pengarang buku tersebut atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Hal ini tentu akan lebih memperkaya wawasan pembaca nantinya.
5. Bagi penulis buku yang diresensi, informasi atas buku yang diulas bisa sebagai masukan berharga bagi proses kreatif kepenulisan selanjutnya. Karena tak jarang peresensi memberikan kritik yang tajam baik itu dari segi cara dan gaya kepenulisan maupun isi dan substansi bukunya. Adapun, bagi penerbit bisa dijadikan wahana koreksi karena biasanya peresensi juga menyoroti soal font (jenis huruf) mutu cetakan dan lain-lain.

Struktur Tulisan ResensiUmumnya sebuah resensi berisi tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup.
1.   Bagian Pendahuluan
Bagian ini berisi karakteristik fisik sebuah buku yang diresensi. Juga diinformasikan secara objektif tentang identitas buku. Informasi yang harus disampaikan meliputi judul, penulis, penyunting (jika ada), penerbit, tahun terbit, cetakan ke-...., tebal buku. Informasi pada pendahuluan ini bersifat faktual, menginformasikan apa adanya tentang identitas sebuah buku.
2.  Bagian Isi
Bagian isi sebuah resensi berisi ulasan tentang judul buku, paparan singkat isi buku, gambaran secra keseluruhan isi buku, informasi tentang latar belakang serta tujuan penulisan buku. Pada bagian ini juga perlu diulas tentang gaya penulisan buku, membandingkan antara buku yang diresensi dengan buku lain yang memiliki tema sama. Dapat juga membandingkan dengan buku lain yang ditulis oleh penulis yang sama dengan buku yang diresensi.
3. Bagian Penutup
Bagian penutup berisi penilaian terhadap kualitas isi buku secara keseluruhan, menilai kelebihan atau kekurangan isi buku baik dari isinya, tampilannya, serta kebakuan bahasa yang digunakan. Kritik atau  saran kepada penulis atau penerbit dapat disampaikan dalam bagian ini. Penulis resensi juga dapat memberikan pertimbangan kepada pembaca tentang perlu tidaknya pembaca membaca atau memiliki buku tersebut. Dengan berbagai ulasan dan pertimbangan yang diberikan, resensi dapat berguna bagi pembaca sekaligus bagi penulis danpenerbit. Bagi pembaca resensi sangat bermanfaat untuk mempertimbangkan matang-matang perlu tidaknya memiliki buku yang terbit. Bagi penerbit dan penulis resensi sangat bermanfaat untuk memperbaiki dan menyempurnakan buku yang ditulis dan diterbitkan itu.

Senin, 20 Maret 2017